Blog Iswanda Mengabarkan Seputar Berita Islam, Artis, Manfaat Khasiat dan Lain Sebagainya

ISLAM DAN DIMENSI SOSIAL PUASA RAMADHAN

ISLAM adalah agama Rahmattan Lil 'Alamin, dalam Islam nilai-nilai sosial sangat dijunjung tinggi. Sebagai manusia untuk mengukuhkan eksistensi dan fitrahnya sebagai makhluk sosial dalam kehidupannya di dunia. Relevansi nilai-nilai sosial ini dalam Islam dapat kita lihat dan baca dalam banyak ayat suci alquran. beberapa ahli tafsir terkemuka mengemukakan bahwa ayat-ayat sosial dalam alquran bahkan disebutkan dalam porsi yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan ayat-ayat yang terkait dengan Ibadah.


Beberapa surat dalam Alquran yang berbicara tentang nilai-nilai sosial adalah seperti surat al-Baqarah [sapi betina], al-Maaidah [makanan], an-Nakhal [lebah], al-Anfaal [rampasan perang], al-An-'aam [binatang ternak], an-Naml [semut], al-Hadiid [besi], Ali Imran [keluarga imran], an-Nisaa' [para wanita]. Di samping itu ada hadis-hadis Nabi yang juga cukup intens menyebut perkara ini. Nabi Muhammad saw, sejalan dengan misi profetiknya dalam membangun kesadaran sosial dan solidaritas antar manusia, sering menekankan pentingnya nilai-nilai sosial ini.

Solidaritas dan kesalehan sosial dalam Islam adalah bersifat universal, tidak mengenal sekat-sekat ras, suku bangsa, kelompok, dan golongan. Pesan-pesan universal Islam ini dapat kita tangkap dengan membaca, sebagai contoh firman Allah dalam Alquran: ''Dan tolong- menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.'' [QS. al-Maidah:2]. Lalu hadis Rasulullah saw yang berbunyi:'' Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lain.'' [HR.Thabrani dan Daruquthni]. Keduanya adalah pesan paling otoritatif, bagian dari sekian banyak pesan-pesan yang menekankan pentingnya kesalehan dan nilai-nilai sosial dimana kesemuanya mengafirmasi nilai fundamental humanisme-transedental Islam.

Islam senantiasa berbicara dan mengingatkan kita tentang keadilan dan tanggung jawab sosial. Dalam Islam iman dan taqwa bukan hanya bersifat dan diarahkan secara vertikal sebagai bentuk sujud kita kepada Sang Pencipta, Allah Swt [hablum minallah] tapi juga harus manifest melalui prilaku kita sehari-hari dalam relasi-relasi sosial yang bersifat horizontal, dalam hubungan antar sesama manusia [hablum minannas]. Sebagaimana sabda Rasulullah: ''Demi Allah yang diriku dalam kuasa-Nya, kamu tidak akan masuk surga, sebelum kamu beriman. Dan kamu tidak beriman, sebelum kamu cinta mencintai dan sayang menyayangi satu sama lain.'' [HR. Muslim]; dan ''Tidaklah beriman orang yang merasa kenyang sepanjang malam, sedangkan tetangganya menderita kelaparan.'' [HR. Thabrani]; mengindikasikan bahwa kesalehan sosial adalah nilai intrinsik yang melekat pada setiap praktek ibadah umat Islam, menjadi manifetasi dari iman dan taqwa kepada Sang Khalik, Allah Swt.

Allah berfirman: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan (1) memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; (2) dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan (3) menunaikan zakat; (4) dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan (5) orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177). Dari sifat-sifat takwa yang tersebut dalam ayat di atas semuanya adalah nilai-nilai aplikatif sarat dengan dimensi sosial yang senantiasa mengarah pada relasi-relasi kita dengan manusia-manusia lain.

Prinsip keseimbangan
Inti ajaran Islam memiliki dua dimensi, dimensi ibadah dan dimensi muamalah (sosial), yang mengajarkan umat Islam prinsip keseimbangan dunia dan akhirat. Keduanya tidaklah terpisah secara demarkasional, tetapi berada pada satu garis yang linear. Dalam Islam hampir tidak ada ibadah yang semata-mata berdimensi ukhrawi, ilahiyyah dan spritual individual melainkan pasti mengandung dimensi muamalah, sosial dibaliknya. Salah satunya adalah ibadah puasa Ramadhan seperti yang saat ini kita jalankan. Puasa Ramadhan adalah “kelas” bagi kaum Muslim untuk melatih diri, menginternalisasi, dan membumikan kesalehan sosial sebagaimana menjadi spirit Islam. Puasa adalah latihan pengendalian diri dari segala bentuk hawa nafsu dan degradasi prilaku yang meruntuhkan derajat kemanusiaan kita, sekaligus mengasah kepekaan sosial kita terhadap sesama. Itulah sebabnya anjuran dan larangan-larangan selama kita menjalani puasa memiliki dimensi sosial di baliknya, selalu terkait dengan interaksi kita dengan orang/manusia-manusia lain.

Terkait dengan anjuran misalnya, sadaqah dan zakat, amalan yang dianjurkan dalam bulan puasa Ramadhan mengajarkan kita prinsip-prinsip filantropi, prinsip berbagi bahwa harta yang dimiliki oleh setiap insan Muslim sesunguhnya memiliki fungsi sosial. Ia adalah sarana untuk menciptakan dan memupuk ukhuwah, kepedulian, dan semangat kesetiakawanan, sekaligus mencair-leburkan jurang ketimpangan dan ketidakadilan sosial. Begitu juga dengan larangan-larangan. Larangan berhubungan seks di siang hari pada bulan Ramadhan tebusannya adalah dengan memberi makan 60 orang miskin. Orang yang tidak berpuasa karena alasan sakit, hamil, atau menyusui, tebusannya adalah fidyah (bersedekah memberi makan kepada fakir miskin). Agar puasa kita paripurna, kita melaksanakan zakat fitrah. Begitu juga agar shalat ‘Id kita sempurna, kita melakukan qurban. Jadi setiap anjuran dan larangan ini senantiasa memiliki konteks sosial dalam penerapannya, membimbing dan mengajarkan umat Islam untuk selalu peduli terhadap sesamanya, untuk selalu menjaga dan memelihara derajat kemanusiannya hingga bertransformasi menjadi insan kamil, manusia sempurna yang membawa kemaslahatan di muka bumi. Inilah nilai-nilai humanisme yang menegaskan kemuliaan dan keagungan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : ISLAM DAN DIMENSI SOSIAL PUASA RAMADHAN